Wednesday, February 11, 2015

Tanyalah Ustaz Siri 216 (Kedudukan Suami & Isteri Jika Salah Seorang Masuk Islam, Hukum Menjadi Pelukis Komek, Huraian Qada' dan Qadar, Hukum Mengqaza' Rambut dan Ayat-ayat al-Quran Untuk Rawatan Ketumbuhan Dalam Perut.)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh                                                                              

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم  


Segala puji bagi Allah, Rabb sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat. 


Sahabat yang dirahmati Allah,    

Tanyalah Ustaz Siri 216 adalah menjelaskan persoalan kedudukan suami & isteri jika salah seorang masuk Islam, hukum menjadi pelukis komek, huraian qada' dan qadar, hukum mengqaza' rambut dan ayat-ayat al-Quran untuk rawatan ketumbuhan dalam perut.

1036 . Soalan : Apa hukum suami yang masih bersama dengan isteri yang bukan seagama lagi.dahulu suami bukan muslim..Apabila suami memeluk Agama Islam..tapi masih bersama dengan isteri yang masih non muslim.. si suami sudah mengajak memeluk Islam,tapi si isteri tak nak.. mohon pencerahan nya ustaz

Jawapan :

Jika suami masuk Islam dan isterinya masih belum Islam adakah perkahwinan mereka terbatal atau pun tidak? Ulama terbahagi kepada 5 golongan pendapat. Adapun jika salah satu dari suami isteri tersebut masuk Islam, kemudian yang lain juga masuk Islam setelahnya, maka para ulama masih berbeza pendapat menjadi lima pendapat.

Pendapat Pertama.

Menurut sekelompok mazhab Zhahiriyah : “…Bila saja seorang wanita masuk Islam, seketika itu juga pernikahan dengan suaminya batal. Sama saja, baik dia seorang wanita Ahli Kitab atau bukan dari Ahli Kitab, baik si suami kemudian menyusul masuk Islam setelah dirinya meskipun hanya sekejab mata atau ada jarak waktu. 

Tidak ada jalan lagi bagi si suami atas isterinya kecuali jika keduanya masuk Islam secara bersama-sama dalam satu waktu. Begitu pula, jika si suami masuk Islam sebelum isterinya, maka pernikahan dengan istrinya juga batal pada waktu dia masuk Islam, meskipun hanya sekejab mata kemudian sang isteri menyusul masuk Islam

Pendapat Kedua.

Menurut mazhab Hanafiyah : “Apabila seorang wanita masuk Islam sementara suaminya masih kafir, hendaklah ditawarkan kepada si suami agar masuk Islam jika keduanya berada di Darul Islam (Negara Islam). Jika si suami masuk Islam, maka wanita tersebut masih menjadi isterinya, dan jika dia menolak, maka seorang hakim berhak menceraikan keduanya. Sedangkan jika (keduanya) berada di Darul Harb (Negeri kafir yang berhak diperangi), hal itu cukup didiamkan sampai masa iddah si wanita habis. 

Apabila si suami tidak juga masuk Islam, maka dia diceraikan. Jika penolakan dari pihak suami, itu bererti talak, kerana pernyataan cerai berasal dari pihaknya, sehingga hal itu disebut dengan talak, sebagaimana halnya jika dia melafalkan kalimat talak. Namun, jika penolakan dari pihak isteri, hal itu batal, kerana wanita tidak memiliki hak talak”

Pendapat Ketiga.

Menurut Imam Malik : “Apabila isteri masuk Islam, hendaklah ditawarkan kepada suaminya agar masuk Islam. Jika suami masuk Islam, (pernikahannya tetap sah), dan jika menolak, dia harus diceraikan. Adapun jika si suami yang masuk Islam, maka harus segera diceraikan”. Ibnu Abdil Barr menyebutkan : “Apabila suami dari Ahli Kitab masuk Islam sebelum isterinya yang juga beragama Ahli Kitab, maka pernikahan keduanya tetap sah, kerana agama Islam membolehkan menikahi wanita Ahli Kitab. 

Namun, jika wanita tersebut bukan dari Ahli Kitab, maka keduanya harus segera diceraikan, kecuali wanita tersebut masuk Islam tidak lama kemudian setelah suaminya. Dan apabila isteri masuk Islam lebih dulu sebelum suaminya yang juga beragama Ahli Kitab atau bukan dari Ahli Kitab, kemudian si suami menyusul masuk Islam masih pada masa iddah isterinya, maka dia berhak atas isterinya tanpa harus rujuk atau membayar mahar kembali. Adapun wanita yang belum disetubuhi, maka dia tidak mempunyai masa iddah. Oleh kerananya, apabila wanita tersebut masuk Islam, maka keduanya harus diceraikan dengan perceraian tanpa ada kalimat talak dan tidak pula mahar, karena si suami belum menyetubuhinya

Pendapat Keempat.

Menurut mazhab Syafi’iyah dan Hanbaliyah : ‘Pernikahan itu batal apabila salah satu dari suami isteri lebih dahulu masuk Islam dengan syarat belum melakukan persetubuhan, … maka menurut mazhab Syafi’iyah dan Hanbaliyah yang masyhur dari mereka bahwa perceraiannya ditangguhkan sampai habis masa iddah. Jika suami atau istri tersebut masuk Islam masih pada masa iddah, maka pernikahannya tetap sah. Dan jika dia masuk Islam setelah habis masa iddah maka pernikahannya batal. Pendapat ini juga diambil oleh Al-Auza’i, Az-Zuhri, Al-Laits dan Ishaq”

Pendapat Kelima.

Seorang isteri apabila masuk Islam sebelum suaminya, maka pernikahannya dibekukan. Jika dia menginginkan perceraiann maka akan diceraikan dengan suaminya, dan jika menginginkan tetap bersamanya –maksudnya tetap menunggu dan menanti suaminya-, maka bila saja si suami masuk Islam, maka dia tetap menjadi isterinya, selama wanita tersebut belum menikah dengan laki-laki lain, meskipun telah berlalu sekian tahun. Persoalan ini diserahkan kepada wanita tersebut. 

Tidak ada hak bagi suaminya untuk bersikap tegas kepada isterinya, begitu pula sebaliknya, si isteri tidak mempunyai hak untuk bersikap tegas kepada suaminya. Ketentuan hukum ini juga berlaku jika si suami yang lebih dulu masuk Islam.

Ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnul Qayyim, Hammad bin Abi Sulaiman juga menfatwakan dengannya. Sebagian ulama ada yang menukil bahwa Imam Malik juga memilih pendapat ini. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

DALIL-DALIL PENDAPAT DIATAS

Dalil-Dalil Pendapat Pertama –Mazhab Zhahiriyah-:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ۚ ذَٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka ; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada mereka (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir ; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar ; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu” [Surah al-Mumtahanah (60) ayat 10] 

Ini adalah ketentuan hukum Allah yang tidak ada seorangpun boleh melanggarnya. Sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengharamkan seorang wanita kembali kepada laki-laki (suami) yang kafir.

2. Diriwayatkan dengan shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwasanya baginda bersabda.

اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang menjauhi segala apa ang dilarang oleh Allah” [HR Al-Bukhari]

Setiap orang yang masuk Islam bererti telah menjauhi kekafiran yang telah dilarang, sehingga dia disebut sebagai muhajir (orang yang hijarah).

Dalil-Dalil Pendapat Kedua –Mazhab Hanafiyah.

1. Ijma’ (kesepakatan) para shahabat radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki dari Bani Tsa’lab yang isterinya masuk Islam. Kemudian Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menawarkan Islam kepadanya, namun dia menolk, sehingga Umar menceraikan keduanya . Persitiwa tersebut disaksikan oleh para sahabat yang lain dan mereka tidak mengingkarinya, sehingga ini menjadi ijma.

2. Kerana dengan masuk Islam, tidak ada lagi tujuan-tujuan pernikahan antara keduanya, yaitu tujuan memiliki, menggauli, tempat menyalurkan keperluan syahwat , menyambung keturunan dan lainnya. Sehingga harus ada sebab yang akan membangun kembali tujuan kepemilikan yang telah hilang tersebut. Sementara, Islam adalah agama ketaatan yang menetapkan jaminan keamanan, bukan memutusnya. Demikian pula, orang yang terus menerus dalam kekafiran, tidak akan dapat menafikannya, baik dalam keadaan permulaan maupun keadaan selanjutnya sebelum masuk Islam.

Dalil-Dalil Pendapat Ketiga –Mazhab Malikiyah.

Dalam menyatakan pendapat tersebut. Mazhab Malikiyah berhujah dengan dalil-dalil berikut.

1. Ketika suami atau isteri masuk Islam sebelum melakukan persetubuhan, mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir” [Surah al-Mumtahanah (60) ayat 10]

Wanita tersebut tidak mempunyai masa iddah, sehingga pernikahan keduanya akan terputus (batal) seketika itu juga saat salah satu dari suami isteri masuk Islam. 

2. Adapun ketika sang isteri masuk Islam setelah melakukan persetubuhan, mereka berdalil dengan dalil-dalil berikut.

• Hadis yang diriwayatkan oleh Malik dengan sanad darinya sendiri : Bahwasanya Ummu Hakim binti Al-Harits bin Hisyam adalah isteri Ikrimah bin Abu Jahal. Dia masuk Islam pada hari penaklukan Makkah, sedangkan suaminya, Ikrimah, lari enggan masuk Islam hingga sampai ke negeri Yaman. Lantas Ummu Hakim berangkat menyusul suaminya hingga dapat menemuinya di Yaman. Dia pun mengajak suaminya masuk Islam. Akhirnya suaminya (Ikrimah) masuk Islam, lalu datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam masih pada tahun penaklukan Makkah. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam melihatnya, maka baginda menyambutnya dengan suka cita dan ia tetap mengenakan selendangnya hingga dibaiat, beliau pun tetap mengesahkan pernikahan keduanya”

• Hadis yang diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ dengan sanad dari Ibnu Syihab : “Ia menyampaikan bawa pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam para isteri kalian masuk Islam di negeri mereka dan mereka tidak berhijrah. Ketika mereka masuk Islam, suami mereka masih kafir. 

Di antara mereka adalah anak perempuan Al-Walid bin Al-Mughirah, dia adalah isteri Shafwan bin Umayyah. Dia masuk Islam pada hari penaklukan Makkah, sedangkan suaminya lari enggan masuk Islam. Rasulullah pun mengirim utusan kepadanya… Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam tidak menceraikannya (Shafwan) dengan isterinya, padahal dia masih kafir. Ketika dia masuk Islam, isterinya tetap bersamanya, tidak dicerai’

Dalil-Dalil Pendapat Keempat –Mazhab Syafi’iyah dan Hanbaliyah
Dalil yang digunakan oleh mazhab Syafi’iyah dan Hanbaliyah yang berpendapat bahawa telah jatuh cerai seketika itu juga saat dia masuk Islam sebelum melakukan persetubuhan dengan dalil-dalil sebagai berikut.

1. Perbedaan agama adalah faktor yang menghalangi pernikahan tetap sah. Apabila terjadi sebelum melakukan persetubuhan, maka dia harus segera diceraikan, kerana hak kuasa pernikahan tidak dikuatkan dengan persetubuhan, sehingga hak tersebut terputus dengan dia masuk Islam.

2. Apabila yang masuk Islam adalah suami, maka dia tidak boleh berpegang teguh kepada tali perkawinan dengan wanita kafir, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir” [al-Mumtahanah (60) ayat10]

Adapun dalil-dalil mereka yang menyatakan bahwa perceraiannya ditangguhkan setelah melakukan persetubuhan hingga masa iddah habis adalah sebagai berikut.

1. Imam Malik meriwayatkan dalam Muwaththa’ dari Ibnu Syihab : “Bahwa ia telah menyampaikan kabar bahawa isteri-isteri kalian masih dalam ikatan perjanjian”

2. Imam Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab bahwa ia pernah berkata : “rentang waktu ke-islaman antara Shafwan dan istrinya adalah sekitar dua bulan”. Lalu Ibnu Syihab berkata : “Belum ada riwayat yang sampai kepada kami bahawa seorang wanita yang hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, sedangkan suaminya masih kafir dan menetap di Darul Kufr melainkan hijrahnya berarti telah menceraikan ikatan pernikahan antara dia dengan suaminya, kecuali jika si suami kemudian hijrah sebelum masa iddahnya habis”

Dalil-Dalil Pendapat Kelima –Mazhab Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.

1. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengembalikan puterinya, Zainab kepada suaminya Abu Al-‘Ash bin Ar-Rabi’ dengan akad nikah yang pertama (ketika masih kafir), dan tidak ada sesuatu pun yang baru”

Dalam redaksi yang lain, beliau mengembalikan puterinya Zainab kepada Abu Al-‘Ash bin Ar-Rabi’, padahal Zainab telah masuk Islam enam tahun sebelum ke-islaman suaminya dengan akad nikah yang pertama, dan tidak ada pengajuan saksi lagi dan tidak pula mahar” [Hadis Riwayat Abu Dawud]

2. Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menaklukkan Makkah, banyak isteri dari orang-orang yang mendapatkan jaminan keamanan telah masuk Islam, sedangkan suami mereka, seperti Shafwan bin Umayyah, Ikrimah bin Abu Jahal dan lainnya agak belakangan masuk Islam, baik dua bulan, tiga bulan ataupun lebih setelahnya. Namun, tidak didapatkan ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menceraikan mereka sebelum dan sesudah masa iddahnya habis. 

Demikian pula, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah berfatwa : “Bahwa si isteri akan dikembalikan kepada suaminya, meskipun telah berselang lama…Ikrimah datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam di Madinah setelah Rasulullah Shallallahu ‘Aihi Wa sallam pulang dari pengepungan Thaif dan pembagian harta ghanimah perang Hunain, yaitu pada bulan Dzul Qa’dah, sementara penaklukan Makkah terjadi pada bulan Ramadan, ini berarti ikrimah datang sekitar tiga bulan setelahnya yang memungkinkan masa iddah isterinya maupun selainnya telah habis, namun beliau tetap mengesahkan pernikahannya dan beliau tidak pernah menanyakan kepada isterinya ; apakah iddahnya telah habis atau belum? 

Begitu juga, beliau tidak pernah menanyakan tentang yang demikian itu kepada seorang wanita pun, padahal pada saat itu banyak sekali suami mereka yang masuk Islam setelah beberapa waktu lamanya yang melebihi masa iddah seorang wanita”

Kesimpulannya : Pendapat Yang Lebih Rajih (Unggul)

Selama pemparan pendapat-pendapat para ulama dan penyebutan dalil-dalil dari setiap pendapat serta perbincangan semua dalil tersebut, maka jelas bagi saya bahwa pendapat yang lebih rajih (unggul) adalah pendapat kelima (yaitu pendapatnya Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim)… Alasannya adalah sebagai berikut.

1. Dalil-dalil yang mereka gunakan sangat kuat.

2. Pendapat ini mengandung kemaslahatan bagi kedua belah pihak (suami-isteri)… Kemaslahatan tersebut akan semakin jelas dengan keterangan di bawah ini.

• Menurut sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam adalah tetap menyatukan suami-isteri apabila salah satunya lebih dahulu masuk Islam sebelum pasangannya, dan keduanya sama-sama redha jika pernikahannya tetap dipertahankan, keduanya tidak diceraikan dan tidak perlu dilakukan akad baru. Apabila isteri lebih dahulu masuk Islam, maka dia punya hak untuk menunggu suaminya hingga dia mahu masuk Islam. 

Bila saja suami masuk Islam, maka dia tetap menjadi isterinya. Sedangkan apabila suami lebih dahulu masuk Islam, maka dia tidak punya hak untuk menahan isterinya bersedia menjadi isterinya lagi dan tetap berpegang teguh dengan tali perkawinannya. Jadi, dia tidak boleh memaksa isterinya masuk Islam dan tidak boleh pula menahannya menjadi isterinya lagi. Jika suaminya masuk Islam dan isterinya tetap berdegil walaupun sudah di pujuk maka dia bolehlah menceraikan isterinya dengan baik kerana tidak ada paksaan di dalam agama.

• Pendapat yang menyatakan “harus diceraikan” hanya semata-mata karena masuk Islam adalah pendapat yang akan menyebabkan orang-orang justru lari dari Islam . Wallahu a'lam.

[Disalin dari kitab Akhkaamu Nikaakhu Al-Kuffaar Alaa Al-Madzhabi Al-Arba’ah, Penulis Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi, Murajaah DR. Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Ali Asy-Syaikh, edisi Indonesia Bolehkah Rumah Tangga Beda Agama?, Penerbit At-Tibyan, Penerjemah Mutsana Abdul Qahhar]

1037. Soalan : Bagaimana pula dengan pelukis komik atau pelukis jalanan yang mencari pendapatan melalui melukis?. Mohon pencerahan. trima kasih ustaz.

Jawapan :

Pekerjaan tersebut jelas di larang oleh Rasulullah SAW. Daripada Said bin Abu al-Hasan, “Ketika saya bersama Ibnu ‘Abbas, seorang lelaki datang dan berkata, “Wahai Ibnu Abbas, pendapatan (periuk nasi) saya adalah dari hasil kerja tangan saya dan kerja saya adalah membuat gambar-gambar ini”. 

Ibnu ‘Abbas berkata, “Saya sekadar memberi tahu apa yang saya dengar dari Rasulullah. Saya mendengar baginda bersabda, “Barang siapa membuat gambar dia akan di-azab oleh Allah sehingga dia mampu menghidupkannya dan sesungguhnya dia tidak akan berupaya untuk menghidupkannya”. Mendengarkan hal ini, lelaki itu menarik nafas panjang (mengeluh) dan mukanya menjadi pucat. Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Jika kamu masih tetap mahu untuk membuat gambar-gambar, saya menasihatkan agar kamu membuat gambar-gambar pokok (tumbuh-tumbuhan) dan sebarang gambar yang bukan berupa dari makhluk bernyawa”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Jual Beli (3/34), no. 428)

Daripada Ibnu ‘Abbas, “Aku mendengar Muhammad bersabda, “Barang siapa membuat gambar di dunia ini, dia akan dipersoalkan serta diminta supaya memberikan nyawa kepada apa yang dilukiskannya pada hari kiamat nanti, tetapi dia tidak akan mampu melakukannya”.” ( Hadis Riwayat al-Bukhari Kitab Pakaian (7/72), no. 846)

Gambar Yang Dilarang Adalah Gambar Makhluk Bernyawa:

... Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Jika kamu masih tetap mahu untuk membuat gambar-gambar, saya menasihatkan agar kamu membuat gambar-gambar pokok (tumbuh-tumbuhan) dan sebarang gambar yang bukan berupa dari makhluk bernyawa”.” ( Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Jual Beli (3/34), no. 428)

Daripada Ibnu ‘Abbas, “Abu Talha, seorang sahabat Rasulullah dan seorang sahabat yang pernah bersama dalam peperangan Badar memberitahu kepadaku bahawa Rasulullah berkata, “Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar.”Yang dia maksudkan adalah gambar yang menyerupai makhluk bernyawa.” ( Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Ekspedisi Peperangan Bersama Nabi (5/59), no. 338)

Daripada Abu Talha, “Aku mendengar Rasulullah berkata, “Malaikat (Pembawa Rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar yang berupa dari makhluk bernyawa”.” ( Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Penciptaan (4/54), no. 448)

1038. Soalan : Saya ingin bertanya tentang Qada' & Qadar. Jika segalanya telah ditentukan oleh Allah S.W.T adakah tempat kita (syurga/neraka) nanti di akhirat juga telah tertulis di Luh Mahfuz? 

Jawapan :

Kepercayaan kepada qada dan qadar adalah rukun iman ke 6, jika seseorang silap faham dlm bab qada' dan qadar boleh rosak akidahnya. Kepercayaan tentang qada' dan qadar dalam akidah Ahli Sunah Wal Jamaah adalah berbeza dengan kefahaman Jabariah, Qadariyah . Syiah dan Muktazilah. Keempat-empat golongan ini telah terkeluar daripada ajaran Islam. Dalam akidah Ahli Sunah Wal Jamaah bahawa percaya dan beriman kepada Qada' dan Qadar adalah termasuk salah satu daripada Rukun Iman yang enam. Sesiapa yang mengingkarinya akan merosakkan imannya.

Qada' dan Qadar ialah ketetapan Allah yang telah ditentukan sejak dari azali lagi berdasarkan ilmuNya yang Maha Tinggi, disusuli dengan kejadian seperti mana yang telah ditetapkan.

Qada' dan Qadar terbahagi kepada dua iaitu Mubram dan Muallaq.

Pertama : Qada' Mubram adalah takdir yang pasti. Sebagai contoh, wanita sahaja yang boleh mengandung dan melahirkan anak, manusia memerlukan oksigen, makan dan minum yang mencukupi untuk hidup. Itu adalah satu ketetapan yang pasti. Allah menetapkan gas atau asap akan memenuhi angkasa raya diikuti dengan kejadian bintang-bintang dan planet-planet dan itulah sebenarnya yang telah berlaku tanpa dapat dihalangi. Allah menetapkan satu bahagian oksigen perlu bercantum dengan dua bahagian hidrogen untuk menjadi air dan hakikat ini tidak dapat diubah sampai ke bila-bila.

Allah menetapkan mata sebagai alat untuk melihat dan telinga untuk mendengar dan fungsi ini akan berterusan sampai bila-bila masa. Allah menetapkan setiap yang hidup pasti merasai mati dan tidak ada seorang pakar perubatan pun yang mampu mengubah kenyataan ini. Semua ini dan yang lain-lainnya tidak dapat diubah sebab ia adalah ketetapan Allah sejak dari azali lagi berdasarkan kebijaksanaanNya yang tanpa batas dan ia telah menjadi hukum alam yang dikenali sebagai hukum sebab musabab dan sebab akibat.

Justeru, hukum alam yang berkait rapat dengan kehidupan manusia ini adalah sebahagian daripada ketetapan Qada' dan Qadar.

Kedua : Qada' Muallaq pula adalah ketetapan yang boleh berubah. Imam Baijuri di dalam kitab Tuhfatul Murid Syarh Jauharatut Tauhid berkata, “Mengikut pendapat yang hak, Luh Mahfuz menerima penghapusan dan penetapan.”

Salman radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah SAW. bersabda maksudnya : “Tidak tertolak Qada' itu melainkan oleh doa dan tidak bertambah di dalam umur itu melainkan oleh kebajikan.”(Hadis riwayat Tirmidzi)

Doa itu sendiri sebagai satu ibadat dan menjadi bentuk perhambaan kepada Allah.Mereka yang berdoa perlu mempunyai keyakinan kerana ada dinyatakan, Allah tidak akan mempersia-siakan mereka.

Rasulullah SAW. yang diriwayatkan daripada Salman Al-Farisi:“Sesungguhnya Allah itu Hidup dan Maha Pemberi, Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikan kedua tangannya (membalas doa orang itu) dalam keadaan kosong serta rugi.”(Hadis riwayat Tirmidzi)

Memetik kata-kata Imam al-Ghazali:“Jika ada orang bertanya, apa manfaat doa itu padahal Qada' (ketentuan Allah) tidak dapat dihindarkan. Ketahuilah bahawa Qada' juga boleh menghindarkan suatu bala dengan berdoa. Maka doa menjadi sebab bagi tertolaknya suatu bala bencana dan adanya rahmat Allah sebagaimana juga halnya, perisai menjadi sebab bagi terhindarnya seseorang daripada senjata dan air menjadi sebab bagi tumbuhnya tumbuh-tumbuhan di muka bumi.”

Perkara ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah dalam surah Ar-Ra’d ayat 39 yang bermaksud: “Allah menghapuskan apa juga yang dikehendaki-Nya dan Dia juga menetapkan apa juga yang dikehendaki-Nya. Dan (ingatlah) pada sisi-Nya ada ibu segala suratan.”

Berkenaan dengan hal ini kita boleh mencontohi sikap para sahabat Nabi SAW walaupun sudah dijanjikan syurga namun mereka masih lagi berusaha meningkatkan amal dan berbuat baik.

Saidina Umar Al-Khattab r.a pada suatu ketika, telah melafazkan doa-doa ini ketika bertawaf: “Ya Allah, jika Engkau telah mentakdirkan aku tergolong di dalam golongan orang-orang yang bahagia, tetaplah aku di dalam keadaan aku. Sebaliknya jika Engkau telah tetapkan aku di dalam golongan orang-orang yang celaka dan berdosa, hapuskanlah takdir itu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kebahagiaan dan keampunan.”

Di dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda yang bermaksud :"Sesiapa yang suka supaya diperluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menjalankan hubungan tali silaturahim."(Hadis Riwayat al-Bukhari).

Umur seseorang itu adalah termasuk Qada' Muallaq boleh berubah-rubah samaada dipanjangkan atau dipendikkan. Dalam hadis tersebut Allah boleh memanjangkan umur seseorang apabila dia menghubungkan silaturahim.

Terdapat satu kisah di zaman Nabi Daud a.s. bahawa menjalin ikatan silaturahim dengan izin Allah dipanjangkan umur. Mengikut riwayat, pada suatu ketika malaikat maut datang kepada Nabi Daud. Pada masa itu kelihatan seorang lelaki duduk di depannya.

Malaikat maut berkata "Enam hari lagi, orang ini akan dicabut nyawanya".

Bagaimanapun, selepas beberapa hari, Nabi Daud menjenguk lelaki itu yang ternyata dia masih hidup. Bahkan keadaannya bertambah sihat. Lelaki itu juga kelihatan bertambah muda berbanding sebelumnya.

Nabi Daud pun bertanya kepada malaikat maut,"Mengapakah demikian (dia masih hidup) sedangkan katamu tinggal enam hari saja lagi lelaki itu akan dicabut nyawanya?".

Malaikat maut pun menjawab. "Ketika itu, selepas beredar dari hadapanmu, dia sudah menyambung silaturahimnya yang sudah lama terputus, maka Allah menambahkan umurnya hingga 20 tahun lagi."

Syed Sabiq di dalam kitabnya Al-Aqaid Al-Islamiyah berkata: “Imam Al-Khathabi telah berkata: ‘Ramai orang mengira Qada' dan Qadar adalah pemaksaan Allah ke atas hambaNya dan manusia hanya mengikut apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Sebenarnya pandangan yang seperti ini adalah salah kerana takdir adalah ketetapan Allah berdasarkan ilmu Allah yang Maha Mengetahui tentang kejadian yang akan berlaku berhubung semua perkara..’ Pengetahuan Allah tentang sesuatu perkara tidak akan mempengaruhi kehendak hamba itu.”

Di zaman Umar Al-Khattab ra, seorang lelaki telah ditangkap kerana mencuri dan beliau telah dibawa menghadap khalifah Umar al-Khattab. Lelaki itu telah disoal: “Mengapa kamu mencuri?” Lelaki itu menjawab: “Kerana Allah telah mentakdirkan ini ke atas diri saya.” Khalifah Umar r.a amat marah dengan lelaki ini lantas beliau terus berkata: “Pukul lelaki ini dengan tiga puluh sebatan selepas itu potong tangannya.” Lelaki ini terkejut dengan hukuman itu dan terus bertanya: “Mengapa hukumannya begitu berat?” Berkata Umar al-Khattab r.a: “Kamu akan dipotong tangan kerana mencuri dan disebat kerana berdusta atas nama Allah.” Maksudnya, manusia diizinkan Allah utk membuat pilihan dan hal ini adalah sebahagian daripada ketetapan Qada' dan Qadar.

Manusia dapat menolak takdir dengan takdir yang lain kerana kesemua itu telah dicipta dan ditetapkan oleh Allah bagi manusia. Justeru, takdir lapar dapat dihilangkan dengan takdir makan, takdir dahaga dapat dihilangkan dengan minum dan takdir mengantuk dapat dihilangkan dengan tidur. Mengikut sebuah riwayat yang sahih, Khalifah Umar al-Khattab r.a enggan memasuki kampung tertentu di Syam kerana ketika itu ia sedang dilanda wabak taun. Sahabat Abu Ubaidah ibn Jarrah r.a bertanya kepada Umar r.a: “Mengapa kamu lari dari takdir Tuhan?’ Umar r.a menjawab: “Aku lari dari takdir Allah kepada takdir yang lain.”(Tarikh At-Tabari)

Kesemua ini menunjukkan, Allah tidak pernah mengikat dan menzalimi manusia malah sebaliknya manusia telah diberi kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Walau bagaimanapun, segala keputusan manusia tidak boleh keluar dari ruang kemanusiaan yang telah Allah tetapkan dan Allah sejak dari awal lagi telah mengetahui segala keputusan yang akan diambil oleh manusia.

Allah berfirman maksudnya : “Keputusan di sisiKu tidak akan berubah dan Aku sekali-kali tidak menzalimi hamba-hambaKu.”(Surah Qaaf ayat 29)

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum (bangsa) melainkan kaun itu sendiri mengubah nasibnya"(Surah Ar-Ra'd ayat 11)

Kesimpulannya : Semua ketetapan yang akan berlaku telah ada tertulis di Luh Mahfuz menunjukkan ilmu Allah yang Maha Hebat . Manusia tak tahu apa yang tertulis maka manusia perlu berusaha, berdoa dan bertawakal di dalam kehidupannya. Allah SWT berikan manusia akal untuk berfikir dan menuntut ilmu dan Nabi Muhammad SAW yang di utuskan oleh Allah SWT telah menjelaskan jalan yang baik dan jalan yang buruk untuk manusia pilih dan ikut. Jika manusia ikut jalan yang baik maka balasannya syurga begitu juga jika manusia pilih jalan yang buruk (dosa) maka manusia terima akibatnya dan akan di masukkan ke dalam neraka. Manusia tak boleh salahkan Allah jika dia masuk neraka kerana dia sendiri yang telah membuat pilihan.

1039. Soalan : Ustaz boleh beri penerangan tentang mengunting rambut,maksud saya zaman sekarang banyak style moden contoh macam rambut "pang",  rambut pacak atau setengah botak dan setengah lagi panjang?

Jawapan :

Gaya rambut sekarang kebanyakkannya di larang oleh Rasulullah SAW kerana rambut jenis qaza' Terdapat bentuk cukuran yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam iaitu apa yang disebut dalam bahasa Arab sebagai qaza‘ (قزع).

Qaza‘ ialah mencukur sebahagian rambut dan meninggalkan sebahagian yang lain. Sama ada mencukur di tengah kepala dan meninggalkan yang tepi, mencukur di tepi meninggalkan rambut di tengah atau mencukur rambut depan meninggalkan rambut belakang atau sebaliknya. Hukum melakukan qaza‘ ini adalah makruh. (Al-Majmu‘, kitab ath-thaharah bab as-siwak: 1/363-364)

Larangan melakukan qaza‘ ini telah disebut dengan jelas di dalam hadis daripada ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma katanya yang bermaksud :

"Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menegah daripada melakukan qaza‘ (mencukur sebahagian daripada rambut kepala)." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis yang lain daripada ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang bermaksud :

"Sesungguhnya Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah melihat seorang kanak-kanak yang dicukur sebahagian rambutnya dan ditinggalkan sebahagian yang lain, lalu Nabi melarang mereka berbuat demikian dan Baginda bersabda: "Kamu cukur (rambut itu) kesemuanya atau kamu tinggalkan kesemuanya (tidak mencukurnya)." (Hadis riwayat Abu Daud)

1040. Soalan : Adakah ada ayat-ayat yang boleh di amalkan untuk hilangkan ketumbuhan dalam perut / rahim dengan izin Allah SWT?

Jawapan :

DOA-DOA UNTUK MEMUSNAHKAN KETUMBUHAN DALAM PERUT.

Lapan surah ini diamalkan dan dibaca untuk memusnahkan sel-sel barah / ketumbuhan dalam perut . Jika pesakit dapat membacanya lagi baik. Jika tak terdaya atau kurang baik bacaannya maka boleh minta suami, ayah, ibu atau orang lain membaca untuknya.
Selok-eloknya sebelum memulakan bacaan surah dibawah :

1. Istighfar 10x. 

2. Salawat Nabi 10x. 

3. Al-Fatihah 1x.

Sediakan sebotol secukupnya air mineral yang besar (sebaik-baiknya air zam-zam) yang bersih lagi suci dan setiap kali habis surah dibaca, ditiupkan kepada air. Pesakit dinasihat minum air bacaan tiap-tiap hari dan sapu/mandi pada anggota yang kena ketumbuhan tersebut. InsyaAllah kerana sakit dan sembuh semua kekuasaanNya.

1. Surah Al Maidah (Ayat 82-91). 

2. Surah Al Araf (Ayat 70-81). 

3. Surah Ar Ra\'d (Ayat 16-28). 

4. Surah Al Anbiyaa\' (Ayat 38-50). 

5. Surah Asy Syu'ara (Ayat 185-227). 

6. Surah Az Zummar (Ayat 42-52). 

7. Surah Ghafir (Ayat 67-77). 

8. Surah Az Zukhruf (Ayat 52-70).


Kepada pembaca tolong sebarkan kepada ahli keluarga dan saudara yang sedang menghidap penyakit ketumbuhan. Semoga dengan menolong mereka yang sakit, akan juga mendapat pahala dari bacaannya serta pahala kerana menolong sesama hamba yang benar-benar memerlukan pertolongan dan penyembuhan dari-Nya.

No comments:

Post a Comment